Langsung ke konten utama

Keadaan Hutan Amazon Kritis, Kehidupan Manusia Diujung Tanduk

 20 Oktober-Brasil masuk ke dalam deretan negara dengan penyumbang polusi terbesar dunia. Hutan hujan Amazon milik mereka terancam karena deforestasi yang terjadi selama beberapa dekade terakhir, menurut hasil riset Dr. Simon Evans dari Carbon Brief.

Deforestasi atau penggundulan hutan dilakukan agar lahannya dapat dialihgunakan untuk penggunaan lain, seperti pertanian, peternakan bahkan kawasan tinggal atau perkotaan.


Di Brasil, deforestasi yang dijalankan kolonialis untuk membuka lahan untuk menanam tanaman komersial seperti karet, gula, dan tembakau. Ini kemudian dipercepat pada paruh terakhir abad ke-20 untuk menciptakan peternakan sapi, perkebunan untuk tanaman skala industri seperti kedelai, kelapa sawit, dan penebangan.



Belum lama ini, sebuah foto udara menunjukkan hutan terbesar di dunia tersebut terus mengalami pengurangan lahan secara intens. Kondisi ini membuat Amazon melepaskan lebih banyak CO2 daripada yang diserapnya dalam 10 tahun terakhir.

Peneliti mengungkap bahwa sebanyak sebanyak 40% dari hutan hujan Amazon dapat berubah menjadi lanskap seperti sabana yang lebih kering jika tingkat curah hujan terus menurun akibat dari perubahan iklim.

Sabana merupakan ekosistem yang memiliki ciri lebih sedikit tutupan pohon dan didominasi padang rumput. Sabana cenderung ada di daerah beriklim sedang dengan curah hujan yang lebih sedikit daripada yang diperlukan oleh hutan hujan.

Selain Brasil, riset Evans yang meneliti kembali kejadian-kejadian ekologis yang terjadi dari tahun 1850 hingga sekarang, menunjukkan Amerika Serikat (AS), China dan Rusia merupakan tiga besar penyumbang emisi dunia. Ketiga negara itu menyumbang hampir 40% dari akumulasi emisi CO2 dari aktivitas manusia.

"Pada akhir tahun ini, AS akan mengeluarkan lebih dari 509 miliar ton CO2 sejak 1850. Ini mewakili 20,3% dari total global, bagian terbesar, dan terkait dengan sekitar 0,2 derajat C pemanasan hingga saat ini," menurut analisis tersebut, dikutip dari Straits Times, Senin (18/10/2021).

"Di tempat kedua adalah China, dengan 11,4% emisi CO2 kumulatif hingga saat ini dan sekitar 0,1 derajat Celcius pemanasan. China memiliki emisi terkait lahan yang tinggi sejak tahun 1850, tetapi ledakan ekonomi berbahan bakar batu bara sejak tahun 2000 adalah penyebab utama posisinya saat ini," tambahnya.

Indonesia juga masuk dalam riset ini, meski sumbangan emisinya tidak sebesar negara-negara adidaya.

Jika dihitung secara per kapita, terdapat perbedaan yang jauh antara beberapa negara. Dengan perhitungan tersebut, Kanada, AS, Estonia, dan Australia merupakan negara dengan sumbangan emisi terbesar. Sementara negara seperti China, India, Brasil, dan Indonesia keluar dari daftar 10 besar penyumbang polusi.

"Sementara negara-negara ini (China, India, Brasil, dan Indonesia) telah memberikan kontribusi besar terhadap emisi kumulatif global, mereka juga memiliki populasi yang besar, membuat dampaknya per orang jauh lebih kecil," kata Evans dalam analisisnya.

"Memang, keempat negara itu menyumbang 42% dari populasi dunia, tetapi hanya 23% dari emisi kumulatif dari tahun 1850-2021."

Sumber: https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20211020105427-33-285216/keadaan-hutan-amazon-kritis-kehidupan-manusia-diujung-tanduk

Komentar

Postingan populer dari blog ini

bisa contact saya di nomor berita

 29 Oktober- +62 813-5165-64337 ya online mulai 09:00 sampai jam 18:00 Nomor ini untuk mengirim saran untuk mengembangkan website ini: +62 813-5165-64337 jika tidak online berarti bot sedang gangguan ya.

Mau IPO, GoTo Group Dekati Investor Ritel di Bursa RI

 25 Oktober- Layanan uang elektronik yang dimiliki GoTo Group, GoPay   memberikan edukasi keuangan kepada kalangan investor ritel pasar modal generasi muda dengan bekerja sama dengan Bursa Efek Indonesia (BEI). Kolaborasi tersebut diselenggarakan sebagai bagian menyemarakkan Bulan Inklusi Keuangan (BIK) melalui program FinanSiap yang didesain untuk menjawab kebutuhan peningkatan literasi keuangan di tengah masyarakat. Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), terjadi kenaikan jumlah investor pasar modal dari 2.484.354 SID (single investor identification) pada tahun 2019 menjadi 3.880.753 SID pada akhir tahun 2020, dan bahkan mencapai angka 6.610.173 SID pada 15 Oktober 2021 lalu. Jumlah nomor tunggal investor atau SID ini termasuk investor saham, reksa dana dan investor obligasi. Sampai dengan September 2021, tercatat 59,23% dari total investor pasar modal merupakan kalangan anak muda di bawah usia 31 tahun. Namun demikian, hasil dari Survei Nasional Li...