Langsung ke konten utama

Bungee Jumping! Harga Batu Bara Rontok 25% dalam 6 Hari...

 21 Oktober-Harga batu bara turun lagi. Koreksi harga si batu hitam sudah terjadi selama enam hari beruntun.

Kemarin, harga batu bara di pasar ICE Newcastle (Australia) tercatat US$ 213,1/ton. Anjlok 3,53% dibandingkan sehari sebelumnya.

Batu bara masih sulit lepas dari tren penurunan harga, yang kini genap terjadi enam hari berturut-turut. Selama enam hari tersebut, harga komoditas ini ambles 25,73%.


Setidaknya ada dua hal yang melatarbelakangi penurunan harga baru bara. Satu, investor melakukan ambil untung (profit taking) karena harga memang sudah naik gila-gilaan.

Meski dalam enam hari harga ambrol 25% lebih, tetapi harga batu bara masih mencatatkan kenaikan 30,7% dalam sebulan terakhir. Sejak akhir 2020 (year-to-date), harga meroket 188,2%.

So, tidak heran pasti akan datang saatnya investor 'gatal' mengeruk cuan dari batu bara. Maklum, keuntungan yang didapat memang boleh dibilang luar biasa.

Dua, ada perkembangan di China yang menjadi sentimen negatif bagi harga batu bara. Pemerintah China tengah mempertimbangan untuk melakukan intervensi terhadap harga komoditas yang naik tajam, termasuk batu bara.

Komisi Reformasi dan Pembangunan Nasional China pada Selasa lalu mengungkapkan tengah mempelajari langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk mengintervensi harga batu bara. Pemerintahan Presiden Xi Jinping akan melakukan segala upaya agar harga kembali ke kisaran yang masuk akal.

Batu bara adalah komoditas strategis bagi China, karena sekitar 60% pembangkit listrik di sana menggunakan tenaga batu bara. Tingginya harga batu bara membuat perusaaan listrik kelimpungan karena di sisi lain permintaan juga sangat tinggi. So, wajar pemerintah China punya kepetingan untuk menekan harga batu bara.

Akan tetapi, sejumlah pihak tidak yakin upaya pemerintah China untuk mengontrol harga batu bara akan membuahkan hasil. Pasalnya, kenaikan harga batu bara adalah masalah dunia, bukan di China saja.

"Intervensi pemerintah bagai sedikit guyuran air ke api besar yang membara. Inti dari masalah ini adalah keterbatasan pasokan energy karena bumi belahan utara (northern hemisphere) akan segera memasuki musimdingin. Butuh waktu berbulan-bulan agar keseimbangan antara pasokan dan permintaan kembali seimbang," terang Frederic Neumann, Co-Head Asian Economic Research di HSBC, sebagaimana diwartakan Reuters.

Sumber: https://www.cnbcindonesia.com/market/20211021055340-17-285321/bungee-jumping-harga-batu-bara-rontok-25-dalam-6-hari/2

Komentar

Postingan populer dari blog ini

bisa contact saya di nomor berita

 29 Oktober- +62 813-5165-64337 ya online mulai 09:00 sampai jam 18:00 Nomor ini untuk mengirim saran untuk mengembangkan website ini: +62 813-5165-64337 jika tidak online berarti bot sedang gangguan ya.

Mau IPO, GoTo Group Dekati Investor Ritel di Bursa RI

 25 Oktober- Layanan uang elektronik yang dimiliki GoTo Group, GoPay   memberikan edukasi keuangan kepada kalangan investor ritel pasar modal generasi muda dengan bekerja sama dengan Bursa Efek Indonesia (BEI). Kolaborasi tersebut diselenggarakan sebagai bagian menyemarakkan Bulan Inklusi Keuangan (BIK) melalui program FinanSiap yang didesain untuk menjawab kebutuhan peningkatan literasi keuangan di tengah masyarakat. Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), terjadi kenaikan jumlah investor pasar modal dari 2.484.354 SID (single investor identification) pada tahun 2019 menjadi 3.880.753 SID pada akhir tahun 2020, dan bahkan mencapai angka 6.610.173 SID pada 15 Oktober 2021 lalu. Jumlah nomor tunggal investor atau SID ini termasuk investor saham, reksa dana dan investor obligasi. Sampai dengan September 2021, tercatat 59,23% dari total investor pasar modal merupakan kalangan anak muda di bawah usia 31 tahun. Namun demikian, hasil dari Survei Nasional Li...